Solari di antara Mantan yang Gagal dan yang Sukses di Real Madrid

img
Nov
07

Tidak sedikit mantan pemain Real Madrid yang berjaya saat membesut bekas klub mereka, namun banyak pula yang gagal total.

“Saya datang ke sini untuk memenangkan pertandingan sepakbola, sesederhana itu,” ujar Santiago Solari dalam konferensi pers jelang laga Melilla melawan Real Madrid di ajang Copa del Rey belum lama ini.

Hasilnya memang sesederhana yang dikatakan Solari: Los Blancos menang telak 0-4 atas tuan rumah dalam laga itu. Meskipun yang dihadapi bukan lawan sepadan, setidaknya kemenangan ini menjadi debut manis Solari setelah ditunjuk sebagai pelatih Real Madrid walau masih berstatus interim.

Laju mulus Real Madrid di bawah kendali sang pelatih caretaker berlanjut pada 3 November 2018. Menjamu Real Valladolid di Stadion Santiago Bernabeu dalam lanjutan Primera Division La Liga, Solari membawa Sergio Ramos dan kawan-kawan menang 2-0.

Solari naik pangkat setelah menangani Real Madrid B sejak 2016. Pria Argentina ini untuk sementara mengisi posisi Julen Lopetegui yang dipecat usai kekalahan memalukan dari Barcelona dengan skor 1-5 dalam duel El Clasico La Liga pada Minggu (28/10/2018).

Ada optimisme tinggi dan semangat kebangkitan yang digaungkan Solari. Namun, salah seorang penghuni skuat Los Galacticos pada awal 2000-an itu kini berada di ambang dua kelompok mantan pemain El Real yang menjadi pelatih bekas klub mereka, yakni barisan gagal dan orang-orang yang boleh dibilang meraih sukses.

Kira-kira, Solari bakal masuk golongan yang mana?

Mantan pemain yang kemudian menjadi pelatih dan paling gemilang di Real Madrid adalah Miguel Munoz. Berposisi sebagai jenderal lapangan tengah, Munoz merumput di El Real selama satu dekade, dari 1948 hingga 1958, dan tampil dalam 223 laga dengan mengemas 23 gol.

Munoz langsung dipercaya menukangi Real Madrid sejak 21 Februari 1959 atau setelah ia gantung sepatu. Ia memang gagal pada kesempatan pertama ini, bahkan posisinya hanya bertahan kurang dari tiga bulan. Namun, Munoz nantinya membuktikan bahwa ia cuma butuh waktu lebih lama untuk menjadi seorang pelatih jempolan.

Pada 13 April 1960, Munoz kembali ke ibukota. Kesempatan kedua ini tidak ia sia-siakan. Munoz membawa Real Madrid menjadi salah satu klub terbaik Eropa dan dunia semenjak awal dekade 1960-an itu.

Selama ditukangi Munoz, El Real mengoleksi 14 trofi. Rinciannya: 9 kali juara La Liga, 2 kali juara Copa del Rey, 2 kali juara European Cup (Liga Champions), serta 1 kali juara Intercontinental Cup. Munoz mengakhiri masa baktinya di Real Madrid pada 15 Januari 1974 lantaran memperoleh panggilan untuk membesut tim nasional Spanyol.

Ditunjuklah mantan pemain lainnya, Luis Molowny, sebagai pengganti Munoz. Saat masih merumput, Molowny bahu-membahu bersama Munoz di lini tengah El Real selama periode 1946-1957. Sama seperti Munoz, Molowny juga sosok gelandang produktif. Gelontoran 89 gol dalam 172 pertandingan adalah buktinya.

Garis nasib Molowny tampaknya selaras dengan Munoz. Ia juga kurang berhasil pada momen pertama sebagai pelatih. Kurang dari 5 bulan menjabat, Molowny keburu diberhentikan pada Mei 1974 karena hanya mampu memenangi satu gelar Copa del Rey. Selanjutnya, Real Madrid merekrut pelatih tim nasional Yugoslavia, Miljan Miljanic.

El Real memanggil pulang Molowny pada 7 September 1977, meskipun sempat didepak lagi. Sepanjang kariernya melatih, Molowny membesut Los Blancos dalam 4 periode yang berbeda. Total, ia mengumpulkan 8 trofi, yakni 3 kali juara La Liga, 2 kali juara Copa del Rey, 2 kali juara UEFA Cup (Europa League), dan 1 kali juara Copa de La Liga.

Selanjutnya ada nama Vicente del Bosque yang pernah menjadi gelandang bertahan andalan El Real selama periode 1968-1984 meskipun sempat dipinjamkan ke beberapa klub lain. Dengan jersey Los Blancos, ia tampil dalam 445 laga dan menyumbangkan 30 gol.

Jalan kepelatihan del Bosque di klub kebanggaannya itu amat tidak mudah. Bermula dari menangani Real Madrid B sejak 1987, ia dua kali mengalami pemecatan dalam waktu relatif singkat saat menukangi tim utama, yakni pada 1994 dan 1996.

Di kesempatan ketiga, del Bosque mengantarkan Real Madrid mengarungi milenium baru dengan prestasi bersama skuat penuh bintang atau Los Galacticos. Ia menghadirkan 7 trofi ke Bernabeu: dua kali juara La Liga, dua kali juara Liga Champions, dan masing-masing satu gelar kampiun Piala Super Spanyol, Piala Iberia, Piala Super Eropa, dan Piala Interkontinental.

Setelah era del Bosque tutup buku pada 2003, Real Madrid sempat dibesut lagi oleh beberapa mantan pemainnya kendati tidak banyak yang sukses. Tercatat, hanya Bern Schuster yang sempat menyumbangkan dua trofi, dan tentu saja sejumlah rekor mengagumkan yang ditorehkan Zinedine Zidane sebelum ia menyatakan berhenti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *