Antonio Conte Datang, Kini Saatnya Inter Mengejar Juventus

img
Jul
09

Hampir sedekade terakhir, Inter Milan ketinggalan jauh dari Juventus. Kini Antonio Conte datang untuk memangkas jarak tersebut, jika bisa langsung meraih Scudetto pada musim perdananya.

Inter terakhir kali meraih Scudetto di musim 2009/2010 dan mereka menjadi runnerup semusim berikutnya di bawah AC Milan. Saat Conte datang ke Juventus di musim panas 2011, klub asal Turin tersebut gantian menguasai persepakbolaan Italia.

Walaupun Conte pada akhirnya pergi di tahun 2014, dominasi Juventus semakin tidak terhentikan bersama Massimiliano Allegri. Total 8 musim Scudetto beruntun selalu menjadi milik klub berjuluk La Vecchia Signora itu.

AS Roma dan Napoli selalu mencoba untuk menghentikan dominasi Juventus, akan tetapi selalu gagal. Untuk musim depan, I Nerazzurri diprediksi akan masuk ke dalam persaingan juara mengingat mereka bakal dilatih Conte, pelatih yang sudah menaklukkan Italia dan Inggris.

Dengan pengalaman Conte bersama Chelsea, Conte tentunya memiliki resep rahasia untuk bisa menghentikan dominasi Juventus. Apalagi ketika Conte datang ke Chelsea, klub tersebut juga baru saja terpuruk bersama Jose Mourinho. Demikian halnya ketika bersama Juventus yang saat itu baru bangkit setelah kasus Calciopoli.

“Memang sudah bukan rahasia lagi kalau jarak antara Inter Milan dan Juventus sangat jauh, sementara Napoli juga memperlihatkan konsistensi mereka” kata Conte mengenai jarak Inter dan Juventus saat ini.

“Saya tak pernah membuat sebuah batasan karena saya tak mau membuat alasan demi alasan. Kami tau jika kami mesti bekerja dengan ekstra keras dan menjadi lebih baik daripada yang lainnya agar dapat mengejar jarak selama bertahun-tahun lamanya” sambung allenatore berusia 49 tahun itu.

“Saat saya datang ke Juventus, klub itu finis di posisi 7 di dalam 2 musim beruntun, sementara bersama Chelsea mereka baru saja finis di posisi 10 di musim sebelumnya” lanjut Conte.

“Bagaimanapun, tidak tepat kalau saya mesti membandingkan dengan yang lalu karena pengalamannya berbeda. Yang paling penting adalah tak memberikan batas untuk diri kita sendiri pada setiap kompetisi. Walaupun kans kami juara misalnya hanya 1%, maka kami mesti berusaha untuk mewujudkannya” tuntas allenatore kelahiran Lecce, 31 Juli 1969 itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *